Perlukah Vaksin Difteri Diberikan di Sekolah? - Blog Nurdin Sikalem
Vaksin Difteri

Perlukah vaksin difteri untuk anak diberikan di sekolah?

Pada saat Anda masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), pasti pernah mendapatkan imunisasi atau vaksin. Biasanya, petugas kesehatan dari Puskesmas setempat akan menyuntik Anda dan salah satu vaksin yang diberikan adalah difteri. Tetapi, apakah perlu memberikan vaksin difteri di sekolah?

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, difteri adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Kejadian difteri sempat menggemparkan pada sekitar 2018 di mana banyak anak yang terkena meninggal dunia. Pada 2011 bahkan 13 anak yang menderita difteri meninggal.

Penyakit ini memiliki gejala demam dan terkadang menggigil, kerongkongan sakit, suara parau, mual, muntah, sakit kepala, dan hidung berlendir. Kadang-kadang itu bercampur darah, serta dapat teraba adanya benjolan atau bengkak pada daerah leher.

Penularan difteri melalui kontak langsung dengan penderita difteri atau pasien carrier difteri. Misalnya kontak langsung melalui percikan ludah (saat batuk, bersin dan berbicara), cairan dari kulit yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung melalui debu, baju, buku maupun mainan yang terkontaminasi.

Hal tersebut mudah didapatkan di area bermain yang sering didatangi oleh anak-anak, seperti sekolah. Sehingga, risiko anak untuk terpapar bakteri penyebab difteri sangat tinggi.

Lalu, apakah penting vaksin difteri di sekolah? Biasanya, untuk imunisasi rutin, anak bisa diberikan 5 dosis pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan. Nah, ternyata vaksin difteri juga penting diberikan pada saat usia anak masuk sekolah.

Vaksin yang biasanya diberikan di sekolah
Beragam vaksin diberikan pada anak di sekolah. Jenis vaksin yang diberikan adalah:

1. Campak


Sebanyak 28,3 persen anak berusia 5-7 tahun masih terkena campak meski sudah mendapatkan vaksinasi ini saat masih bayi. Atas dasar itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membuat rekomendasi imunisasi ulang pada anak kelas 1 di seluruh Sekolah Dasar (SD).

2. Difteri Tetanus (DT)


Vaksin DT juga diberikan ulang pada anak sekolah kelas 1 SD. Selanjutnya, mengingat masih dijumpainya kasus difteri pada umur di atas 10 tahun, imunisasi DT dapat diberikan lagi saat anak berusia 12 tahun.

3. Tetanus


Vaksin tetanus direkomendasikan untuk diberikan ulang pada anak sekolah kelas 2 dan 3 SD. Sebab imunisasi tetanus yang didapatkan ketika berusia 18-24 bulan hanya akan memberikan perlindungan hingga sang anak berusia 6-7 tahun saja atau saat ia duduk di bangku kelas 2 SD.

Jadi, kalau anak Anda dapat vaksin di sekolah biarkan. Karena itu biasanya program pemerintah melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang biasanya diadakan 2 kali setahun.

Perlukah Vaksin Difteri Diberikan di Sekolah?

Perlukah Vaksin Difteri Diberikan di Sekolah?
Blog Nurdin Sikalem
Vaksin Difteri

Perlukah vaksin difteri untuk anak diberikan di sekolah?

Pada saat Anda masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), pasti pernah mendapatkan imunisasi atau vaksin. Biasanya, petugas kesehatan dari Puskesmas setempat akan menyuntik Anda dan salah satu vaksin yang diberikan adalah difteri. Tetapi, apakah perlu memberikan vaksin difteri di sekolah?

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, difteri adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Kejadian difteri sempat menggemparkan pada sekitar 2018 di mana banyak anak yang terkena meninggal dunia. Pada 2011 bahkan 13 anak yang menderita difteri meninggal.

Penyakit ini memiliki gejala demam dan terkadang menggigil, kerongkongan sakit, suara parau, mual, muntah, sakit kepala, dan hidung berlendir. Kadang-kadang itu bercampur darah, serta dapat teraba adanya benjolan atau bengkak pada daerah leher.

Penularan difteri melalui kontak langsung dengan penderita difteri atau pasien carrier difteri. Misalnya kontak langsung melalui percikan ludah (saat batuk, bersin dan berbicara), cairan dari kulit yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung melalui debu, baju, buku maupun mainan yang terkontaminasi.

Hal tersebut mudah didapatkan di area bermain yang sering didatangi oleh anak-anak, seperti sekolah. Sehingga, risiko anak untuk terpapar bakteri penyebab difteri sangat tinggi.

Lalu, apakah penting vaksin difteri di sekolah? Biasanya, untuk imunisasi rutin, anak bisa diberikan 5 dosis pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan. Nah, ternyata vaksin difteri juga penting diberikan pada saat usia anak masuk sekolah.

Vaksin yang biasanya diberikan di sekolah
Beragam vaksin diberikan pada anak di sekolah. Jenis vaksin yang diberikan adalah:

1. Campak


Sebanyak 28,3 persen anak berusia 5-7 tahun masih terkena campak meski sudah mendapatkan vaksinasi ini saat masih bayi. Atas dasar itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membuat rekomendasi imunisasi ulang pada anak kelas 1 di seluruh Sekolah Dasar (SD).

2. Difteri Tetanus (DT)


Vaksin DT juga diberikan ulang pada anak sekolah kelas 1 SD. Selanjutnya, mengingat masih dijumpainya kasus difteri pada umur di atas 10 tahun, imunisasi DT dapat diberikan lagi saat anak berusia 12 tahun.

3. Tetanus


Vaksin tetanus direkomendasikan untuk diberikan ulang pada anak sekolah kelas 2 dan 3 SD. Sebab imunisasi tetanus yang didapatkan ketika berusia 18-24 bulan hanya akan memberikan perlindungan hingga sang anak berusia 6-7 tahun saja atau saat ia duduk di bangku kelas 2 SD.

Jadi, kalau anak Anda dapat vaksin di sekolah biarkan. Karena itu biasanya program pemerintah melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang biasanya diadakan 2 kali setahun.
Loading...